Sebagai pengajar Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), ada satu pemandangan yang selalu menarik perhatian saya di sekolah.
Ketika koneksi internet di lab komputer mati atau Wi-Fi sekolah mengalami gangguan (down), kepanikan melanda. Siswa gelisah, pekerjaan terhenti, dan semua orang sibuk mencari solusi: “Pak, kok buffering?”, “Pak, RTO (Request Time Out) nih!”
Kita hidup di zaman di mana keterhubungan (connectivity) adalah segalanya. Kita rela bayar mahal untuk bandwidth besar, serat optik tercepat, dan kuota tak terbatas. Kita tidak ingin sedetik pun tertinggal informasi dunia.
Tapi, pernahkah kita mengecek status koneksi kita dengan “Server Pusat” kehidupan?
Ping ke Langit: RTO atau Reply?
Dalam ilmu jaringan, ada perintah sederhana bernama Ping. Tujuannya untuk mengecek apakah perangkat kita terhubung dengan server. Jika balasannya “Reply”, berarti terhubung. Jika “Request Time Out”, berarti putus.
Sering kali, saya merenung. Jangan-jangan, indikator sinyal kehidupan saya penuh bar-nya (karier bagus, kesehatan prima, rezeki lancar), tapi koneksi batin saya sebenarnya sedang RTO.
- Saat azan berkumandang (panggilan dari Server), apakah saya langsung merespons (low latency)? Atau saya menunda-nunda (high latency)?
- Saat hati gelisah, ke mana saya mencari sinyal? Apakah reconnect ke Tuhan lewat doa, atau malah lari mencari hiburan di media sosial yang justru banyak noise-nya?
Hambatan Jaringan (Interference)
Di kelas, saya mengajarkan bahwa sinyal Wi-Fi bisa lemah karena adanya halangan dinding tebal atau interferensi gelombang lain.
Begitu juga hati. “Sinyal” petunjuk Tuhan itu sebenarnya selalu memancar 24 jam. Tuhan tidak pernah offline. Tuhan tidak pernah maintenance.
Jika kita merasa jauh, hampa, atau bingung arah tujuan hidup, masalahnya bukan pada Provider-nya, tapi pada perangkat penerima (hati) kita. Mungkin hati kita tertutup dinding ego yang tebal. Atau mungkin, terlalu banyak “sampah digital” dan dosa yang menjadi noise, sehingga suara hati nurani menjadi kresek-kresek tidak jelas.
Reconnecting…
Artikel ini adalah pengingat bagi diri saya sendiri, dan mungkin bagi Anda yang membacanya.
Jangan sampai kita menjadi ahli komunikasi data, jago konfigurasi router dan mikrotik, tapi gagal mengonfigurasi hati untuk tersambung dengan Pencipta.
Sinyal duniawi bisa hilang kapan saja—bisa karena kuota habis, listrik mati, atau gadget rusak. Tapi koneksi spiritual adalah satu-satunya jaringan yang akan tetap kita butuhkan, bahkan saat nafas berhenti dan gadget tak lagi bisa menyala.
Mari cek status koneksi kita hari ini. Jika terasa lambat, mungkin saatnya kita restart niat dan bersihkan cache dosa-dosa kita.
