Setiap hari di SMK Karya Guna Bhakti 1 Bekasi, rutinitas saya berputar pada jam pelajaran, materi teknis, dan nilai siswa. Sebagai Guru IT, target saya terukur: memastikan siswa memahami jaringan komputer, multimedia, dan logika pemrograman.
Dalam dunia pendidikan, ada satu istilah yang sangat akrab bagi siswa: Remedial.
Ketika nilai ujian seorang siswa di bawah standar (KKM), sistem pendidikan kita memberikan “kesempatan kedua”. Mereka boleh mengulang ujian, memperbaiki nilai, dan memperbaiki kesalahan. Remedial adalah jaring pengaman agar tidak ada yang gagal total.
Namun, saat saya merenung di sela-sela jam mengajar, saya teringat diskusi tentang dua jenis penyesalan di akhirat yang pernah saya tulis sebelumnya.
Saya tersadar: Hidup ini adalah satu-satunya sekolah yang tidak mengenal sistem Remedial.
Ketika “Bel” Terakhir Berbunyi
Dulu, saat saya menjadi System Analyst (2000-2010), kesalahan pada sistem bisa diperbaiki dengan patch atau update versi baru. Di sekolah, nilai merah bisa diperbaiki dengan tugas tambahan.
Tapi dalam “Kurikulum Kehidupan”, kita tidak tahu kapan bel pulang berbunyi.
- Penyesalan Penghuni Neraka (Tidak Lulus Mutlak): Ini mirip seperti siswa yang dikeluarkan (drop out) atau tidak lulus ujian akhir, namun memohon kepada Kepala Sekolah, “Pak, tolong izinkan saya tes ulang.” Di dunia, permohonan itu mungkin dikabulkan. Tapi di akhirat, pintu “remedial” itu sudah tertutup rapat. Penyesalan ini adalah tentang hilangnya kesempatan “sekolah” (hidup di dunia) yang disia-siakan.
- Penyesalan Penghuni Surga (Lulus tapi Pas-pasan): Ini yang sering luput dari perhatian kita. Bayangkan seorang siswa yang lulus ujian dengan nilai pas-pasan (Cukup). Dia lulus, dia senang. Tapi saat melihat teman sebelahnya mendapat nilai Cum Laude (Sempurna) dan mendapatkan beasiswa terbaik, timbul rasa sesal: “Andai dulu saya tidak malas-malasan belajar, mungkin nilai saya juga sempurna.”Penghuni surga pun demikian. Mereka selamat, tapi menyesali “jam kosong” yang mereka habiskan tanpa makna, sehingga level kebahagiaan mereka tidak setinggi yang seharusnya bisa mereka capai.
Menjadi Pendidik bagi Diri Sendiri
Transisi saya dari dunia industri ke dunia pendidikan mengajarkan saya bahwa mentransfer ilmu (hard skill) itu mudah. Yang sulit adalah mendidik karakter (soft skill & heart skill).
Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak rekan-rekan, para siswa, dan pembaca sekalian:
Jangan hidup seolah-olah kita punya jatah nyawa cadangan. Jangan menunggu masa tua untuk menjadi “siswa teladan” di mata Tuhan.
- Jika hari ini kita masih bisa bernapas, itu artinya kita masih berada di dalam “jam pelajaran”.
- Gunakan waktu ini untuk mengumpulkan poin kebaikan sebanyak-banyaknya.
- Jangan sampai kita baru sadar ingin belajar serius ketika lembar jawaban sudah ditarik oleh pengawas (Malaikat Maut).
Penutup
Di kelas, saya mungkin guru kalian yang mengajarkan teknologi. Tapi di hadapan kehidupan, kita semua adalah murid yang sedang berjuang mengerjakan soal-soal tak terduga.
Mari kita kerjakan “ujian” hari ini dengan sebaik-baiknya, agar kita tidak perlu memohon remedial yang tak akan pernah ada.
