Bagi siapa pun yang pernah menyentuh baris kode, dua kata ini bukan sekadar sapaan. Ini adalah awal dari penciptaan.
Dulu, saat saya memulai karier profesional sebagai Desain Grafis di Bandung pada tahun 1996, dan kemudian menyelami dunia logika sebagai System Analyst selama satu dekade di PT. Maxxima Innovative Engineering (2000-2010), hidup rasanya bisa didefinisikan dengan binary: 0 atau 1, benar atau salah, error atau success.
Tugas saya waktu itu sangat jelas: menganalisis kebutuhan bisnis klien dan menerjemahkannya menjadi spesifikasi sistem IT yang optimal. Di dunia itu, segala sesuatu terukur. Jika ada kesalahan, kita tinggal mencari baris kode yang salah, melakukan debugging, dan sistem kembali berjalan normal.
Namun, “algoritma” kehidupan saya berubah total ketika saya memutuskan beralih haluan menjadi pendidik pada tahun 2013
Dari Syntax Error ke Human Error
Tiga belas tahun terakhir ini, hari-hari saya dihabiskan di SMK Karya Guna Bhakti 1 Bekasi. Di sini, saya tidak hanya mengajarkan siswa tentang Jaringan Komputer atau Multimedia , tetapi saya juga memegang peran sebagai pendidik yang menjamin mutu dan kepatuhan institusi.
Pergeseran dari menghadapi layar monitor ke menghadapi ratusan siswa menyadarkan saya pada satu hal: Manusia tidak punya tombol “Undo”.
Saya melihat generasi muda yang sangat cerdas secara digital, namun sering kali rapuh secara spiritual. Saya melihat bagaimana kita—dan mungkin saya di masa lalu—begitu sibuk membangun karier, mengejar upgrade status sosial, tapi lupa melakukan audit internal pada jiwa kita sendiri.
Bug Terbesar: Penyesalan
Ada sebuah nasihat Nabi Muhammad SAW yang belakangan ini sangat mengganggu pikiran saya—dalam artian yang baik. Beliau mengingatkan tentang dua jenis penyesalan di “masa depan” (akhirat) nanti:
- Penyesalan orang yang celaka, karena menyia-nyiakan waktu.
- Penyesalan orang yang sukses (masuk surga), yang tetap menyesal: “Mengapa dulu saya tidak berbuat lebih banyak kebaikan?”
Sebagai mantan System Analyst, ini terdengar seperti peringatan tentang efisiensi sistem yang paling fundamental. Hidup ini adalah runtime sekali jalan. Tidak ada versi beta, tidak ada restart.
Mengapa Blog Ini Ada?
Melalui website soktaviyana.my.id ini, saya memang menawarkan kursus untuk mengasah hard skill Anda di bidang teknologi. Namun, melalui tulisan-tulisan di blog ini, saya ingin mengajak kita semua untuk sejenak berhenti coding di layar monitor, dan mulai coding (menata) niat di dalam hati.
Saya Sonata Oktaviyana. Selamat datang di catatan perjalanan saya men-debug kehidupan, belajar dari kesalahan, dan berusaha mengoptimalkan sisa usia agar kelak kita tidak bertemu dengan penyesalan yang abadi.
Mari belajar. Mari bertumbuh.
.
