Dalam dunia pengembangan perangkat lunak, ada dua filosofi besar yang saling bertolak belakang: Proprietary dan Open Source.
Software Proprietary (sumber tertutup) itu eksklusif. Kodenya dirahasiakan, dilindungi lisensi ketat, dan tidak boleh dimodifikasi orang lain. Pembuatnya memegang kendali penuh demi keuntungan sendiri.
Sebaliknya, Open Source (sumber terbuka) adalah gerakan berbagi. Kodenya dibuka untuk publik, boleh dipelajari, dimodifikasi, dan disebarluaskan. Contoh paling nyata adalah sistem operasi Linux atau Android di HP kita. Pembuat awalnya mungkin sudah tidak aktif, tapi karyanya terus hidup, berkembang, dan memberi manfaat bagi miliaran orang hingga detik ini.
Sebagai mantan System Analyst yang kini menjadi Pendidik, saya melihat sebuah kemiripan pola yang mencolok.
Manusia Tipe Proprietary vs Open Source
Ada manusia yang menjalani hidup dengan pola pikir Proprietary. Hidupnya tertutup. Hartanya hanya untuk dirinya, ilmunya disimpan rapat takut tersaingi, dan fokus utamanya adalah akumulasi keuntungan pribadi. Masalahnya, ketika manusia tipe ini “shut down” (meninggal dunia), warisannya berhenti di situ. Sistemnya mati. Tidak ada lagi nilai tambah yang mengalir.
Di sisi lain, ada manusia yang memilih jalan hidup Open Source. Ini adalah konsep yang diajarkan Rasulullah SAW tentang Amal Jariyah: pahala yang terus mengalir meski orangnya sudah tiada.
- Sedekah Jariyah (Source Code yang Dibagikan): Harta yang dilepas untuk fasilitas umum.
- Ilmu yang Bermanfaat (Dokumentasi & Tutorial): Pengetahuan yang diajarkan lalu diamalkan orang lain.
- Anak Shaleh (Project Forking): Generasi penerus yang melanjutkan nilai-nilai kebaikan orang tuanya.
Guru: Profesi Paling “Open Source”
Inilah alasan utama mengapa saya mencintai profesi saya saat ini di SMK Karya Guna Bhakti 1. Menjadi guru bukan sekadar pekerjaan; ini adalah aktivitas membagikan “kode program” kebaikan ke dalam ribuan “sistem” baru (para siswa).
Ketika saya mengajarkan cara merakit jaringan atau membuat desain grafis, dan 10 tahun lagi siswa tersebut menggunakan ilmu itu untuk menafkahi keluarganya, maka “royalti” pahalanya akan terus mengalir ke saya, tanpa mengurangi rezeki siswa tersebut.
Itulah keindahan hidup yang Open Source. Kita tidak takut tersaingi, kita justru bahagia jika orang lain bisa lebih hebat berkat apa yang kita bagikan.
Upload Kebaikanmu ke “Cloud”
Di era digital ini, kita berlomba-lomba meng-upload foto terbaik ke media sosial. Tapi jangan lupa meng-upload kebaikan ke “Cloud” yang sesungguhnya (Langit).
Mari kita bertanya pada diri sendiri hari ini:
- Apakah hidup saya hanya untuk memperkaya diri sendiri (proprietary)?
- Atau saya sudah mulai membagikan sesuatu yang berguna bagi orang lain (open source)?
Kita tidak perlu menjadi programmer jenius untuk melakukan ini. Senyum yang tulus, membuang duri di jalan, atau mengajarkan satu ayat kebaikan, itu semua adalah kontribusi open source yang dicatat abadi di database Tuhan.
Jadilah manusia yang ketika nama kita di-search di akhirat nanti, yang muncul adalah ribuan testimoni kebaikan, bukan “404 Not Found”.
