Jangan Simpan Semuanya di “Local Disk”: Filosofi Backup dan Cloud Storage

Sebagai orang IT, ada satu mimpi buruk yang paling saya takuti melebihi hantu: Kehilangan Data Penting.

Bayangkan skripsi yang dikerjakan berbulan-bulan, atau foto-foto kenangan anak saat masih bayi, hilang seketika karena harddisk corrupt atau laptop dicuri. Rasanya lemas, bukan?

Itulah sebabnya saya selalu cerewet mengingatkan siswa dan rekan guru: “Jangan lupa Backup! Simpan di Cloud!”

Prinsipnya sederhana: Data yang tidak di-backup, adalah data yang siap hilang.

Namun, prinsip ini sering kita lupakan dalam menjalani kehidupan yang sesungguhnya.

1. Local Storage vs Cloud Storage

Dalam hidup, kita sering kali sibuk memenuhi “Local Storage” (Dunia). Kita menumpuk harta, aset, dan pencapaian di sini. Masalahnya, dunia ini sifatnya volatile (mudah hilang) dan hardware-nya (tubuh kita) punya masa pakai.

Saat “Sistem” kita mati (meninggal dunia), semua data yang tersimpan di Local Disk (harta yang ditumpuk, baju di lemari, uang di brankas) tidak akan bisa dibawa. Semuanya akan di-format.

Satu-satunya data yang selamat adalah data yang sudah sempat kita Upload ke Cloud (Langit).

2. Strategi Backup 3-2-1

Di dunia enterprise, ada strategi backup standar bernama 3-2-1 Rule:

  • 3 Salinan Data.
  • 2 Media Berbeda.
  • 1 Disimpan di Lokasi Lain (Offsite/Cloud).

Dalam hidup, kita juga perlu strategi ini agar tidak bangkrut di akhirat:

  • Jangan habiskan semua rezeki untuk dinikmati sendiri.
  • Transfer/Upload sebagian rezeki itu menjadi sedekah, wakaf, dan bantuan ke orang lain.

Itulah proses “Backup” yang sesungguhnya. Harta yang kita makan akan jadi kotoran. Harta yang kita simpan akan jadi rebutan ahli waris. Tapi harta yang kita sedekahkan (upload), itulah yang tersimpan abadi di server Tuhan, aman dari inflasi, pencurian, maupun kerusakan.

3. Restore Point: Pemulihan Saat Bencana

Ketika kita rajin melakukan backup (beramal baik), kita sebenarnya sedang membuat Restore Point.

Saat kita tertimpa musibah di dunia, kebaikan-kebaikan yang pernah kita “upload” itu sering kali kembali “didownload” dalam bentuk pertolongan tak terduga.

  • Mungkin anak kita dijaga orang lain karena kita dulu pernah menolong orang.
  • Mungkin kita dimudahkan urusan birokrasi karena dulu kita pernah mempermudah urusan orang.

Penutup

Sahabat sekalian. Cek kapasitas penyimpanan Anda hari ini. Jika Local Disk Anda penuh sesak tapi Cloud Storage Anda masih kosong (0 KB), berhati-hatilah.

Jangan menunggu hardware failure (sakit keras/kematian) baru menyesal belum sempat backup data. Mulailah meng-upload kebaikan sedikit demi sedikit, mulai hari ini.

Karena pada akhirnya, hanya data di “Cloud” yang akan kita akses selamanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *